Anak Demam, Pulang Kampung Batal

Saya dan suami bergotong-royong sudah tetapkan untuk pulang kampung ke Makassar untuk merayakan hari lebaran bersama keluarga besar disana. Tiket sudah terbeli, barang sudah dikemas, rumah sudah dibersihkan, kuliner ringan anggun dan kuliner lain untuk lebaran sama sekali tidak terlintas untuk dibentuk atau dibeli. Sayang beribu sayang, H-1 sebelum keberangkatan, anak saya terkena demam yang masya Allah sangat tinggi, sampai 40 derajat celcius. 
Demam anak sangat tinggi
Waktu itu, tanggal 23 Juni 2017, subuh sehabis sahur, saya yang terbiasa menyapu tubuh anak saya ketika tidur, menyadari bahwa ada yang aneh pada tubuhnya. Saat itu kondisi pori-porinya terbuka semua di penggalan lengan. Saya merasa si kecil sedang kedinginan, maka kutariklah selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Namun beberapa ketika tubuhnya mulai menggigil kedinginan, telapak kakinya terasa sedingin es, bibirnya pun demikian. Namun tubuh lainnya terasa sangat panas. Ketika kuukur suhunya memakai termometer digital, tidak heran tubuhnya sangat panas sebab ternyata suhu memperlihatkan 40.1 derajat celcius.
Saya eksklusif menangis, suami saya ketika itu sedang itikaf dan saya tak punya sanak saudara di kota ini untuk sekedar diminta tolongi. Saat itu pukul tiga subuh, saya menelpon suami berkali-kali namun tak kunjung dijawab, sampai saya mengirim pesan teks ke ibu saya untuk menelpon suami saya berulang-ulang dan memberikan kondisi anak saya.
Saya hanya sanggup menangis, ketakutan, sambil membangunkan si kecil. Saya takut ia tidak sadarkan diri dalam kondisi menggigil, saya khawatir sebab demamnya tak kunjung reda. Setengah jam kemudian, suami gres pulang. Saya menangis, memintanya ke apotik namun sayang tak satupun apotik yang buka di subuh hari. 
Sambil terus mengompres penggalan tubuh yang terdapat pembuluh darah besarnya, saya bersedih dan ketakutan. Saya takut sebab dulu saya mengingat adik saya yang demam sampai step, matanya naik dan tak sadarkan diri. Saya cemas.
Alhamdulillah, sekitar pukul 6 pagi, sudah ada apotik yang buka. Saya eksklusif memperlihatkan termorex pada anak saya, demamnya sudah agak turun namun masih diangka 38 derajat. Berhubung lagi marak terjadi demam berdarah, saya eksklusif membawa anak saya ke UGD rumah sakit, soalnya waktu itu lagi tanggal merah, cuti bersama, tak ada satupun dokter seorang andal anak yang buka.
Bersyukur dokter menyampaikan bahwa anak saya hanya terkena virus, bukan DBD. Setelah diberikan obat, alhamdulillah di hari lebaran anak saya sudah sehat kembali, meski tiket kepulangan kami sebelumnya harus dibatalkan. But yeah, apalah artinya pulang kampung kalau anak tersiksa selama perjalanan. Saya bukan tipe orang renta yang ibarat itu.
Persiapan yang tak ada sama sekali, berdampak di rumah gak ada kuliner ringan anggun lebaran. Tapi beruntung saya masih sempat menciptakan kari ayam heheh meski rasanya aneh 😀
It is okay dear, mudik sanggup kapan saja asal kondisi tubuh sehat. Mudik tak harus hari raya, kan?
Ceriamu, bahagiaku.
Baca Juga :  Kuliner Makassar: Ati Raja, Si Nyuknyang Legendaris Asal Makassar