Cara Ampuh Mengajarkan Anak Menutup Aurat Semenjak Dini

Saya punya kebiasaan memosting foto anak saya di facebook dengan hijabnya. Bukan untuk pamer bahwa anak saya berhijab, tapi untuk mendokumentasikan foto-fotonya biar gampang dilihat oleh keluarga dan bisa sebagai penyimpanan online (tapi kini foto-fotonya sudah diprivate sebagian. 
Ada satu hari, seorang mitra yang mempunyai anak wanita bertanya padaku ihwal bagiamana caraku menciptakan si kecil mengenakan jilbab. Kemudian di hari yang lain, seorang mitra lainnya pun bertanya demikian.
Alhamdulillah, anak saya mengenakan jilbab bukan hanya dikala difoto saja. Anak saya selalu mengenakan jilbabnya dikala keluar dari pintu rumah. Jilbab baginya bukan hanya sekedar gaya-gayaan untuk diposting di medsos untuk mendapatkan like, komen dan share. Alhamdulillah, anak ini tetap konsisten meski saya tidak memintanya, malah ia sendiri yang mengingatkan untuk memakaikannya jilbab ketika akan keluar rumah. Bahkan masya Allah, dia sering mengingatkan saya untuk mengenakan jilbab ketika akan keluar rumah. 
Pernah suatu hari, saya bercanda dengannya di depan umum, saya berkata akan melepaskan jilbabnya (sambil memengang jilbabnya), secara impulsif ia eksklusif bilang jangan kemudian menangis. Dia terlihat sangat kesal dan ingin menjauh, khawatir akan kulepas jilbabnya. Setelah saya mengaku hanya bercanda dan kemudian memeluknya dan meminta maaf, tangisannya eksklusif reda.
Lantas, apa yang telah kami tanamkan padanya sehingga ia punya kesadaran sendiri dalam mengenakan jilbab? Berikut akan saya jelaskan.

Anak melihat, anak meniru

Anak kecil itu bagaikan mesin peniru yang tercanggih di atas yang tercanggih, anak kecil diciptakan oleh Yang Mahakuasa dengan membawa kemampuan memalsukan yang luar biasa. Lihat saja, anak yang tumbuh dilingkungan yang berbahasa Indonesia, maka ia akan bisa berbahasa Indonesia, begitu juga dengan bahasa Korea, Arab, Jepang, Inggris, anak tanpa diajar, tanpa butuh guru les akan bisa berbahasa lingkungannya dengan fasih. 
Begitu juga dengan menutup aurat, bagaimana bisa kita mengharapkan si anak untuk menutup auratnya, sementara ibunya tidak konsisten dalam menutup auratnya sendiri. Saya pribadi, alhamdulillah bahkan bila akan mengambil jemuran, mendapatkan paket atau apapun itu yang mengharuskan saya melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah, atau bila ada tamu yang tidak pantas melihat auratku, maka saya akan menutupnya. Dengan cara ini, anak saya meniru. Ketika ada orang yang datang, bila itu teman suami, maka ia akan buru-buru mengenakan jilbabnya bila ingin keluar untuk bergabung dengan tamu.

Bisa alasannya ialah terbiasa

Memang benar ucapan orang bijak, bahwa kita bisa alasannya ialah terbiasa. Sesuatu yang dilakukan secara berulang, meski awalnya kita sangat sulit melakukannya, maka suatu dikala akan bisa juga. Kebiasaan membawa kemahiran. 
Anak saya juga pernah berada di kondisi tidak nyaman dengan jilbabnya, sama ibarat ketika orang remaja pertama kali mengenakan jilbab, niscaya akan merasa risih, akan ada keluhan ini dan itu. Begitu juga dengan anakku, terlebih alasannya ialah ia termasuk anak yang tidak betah tanpa AC. Keringatnya selalu bercucuran kemana-mana. 
Saya mengajarkan anak saya berjilbab sebelum usia 1 tahun, awalnya memang ia sering membukanya, nangis bahkan hingga ngamuk. Tapi, dengan sabar saya terus memakaikannya kembali sambil berkata, “Qifaya lihat mami pake jilbab,kan? Masa anak mami tidak mau pake jilbab?” Saya perhatikan anak saya memang selalu mau samaan dengan maminya, alasannya ialah ia suka meniru, jadi ketika saya mengucapkan kalimat di atas, ia niscaya eksklusif mau dipakaian jilbabnya lagi.

Doktrin

Jika si anak sudah mulai berguru mengenal jilbab, maka perlahan doktrinlah ia ihwal kenapa harus mengenakan jilbab. Berikan penjelasan, katakan dengan halus, dan lakukan secara berulang. Hindari memerintahnya menggunakan jilbab tanpa menawarkan klarifikasi kenapa ia harus mengenakannya, anak juga butuh penjelasan, terlebih anak sekecil ini yang selalu bertanya kenapa begini kenapa begitu. Jika kita memaksanya mengenakan jilbab tanpa memberi tahu alasannya, maka kesadaran tidak akan tumbuh. Karena disini, yang perlu dibangun ialah kesadaran si anak, bukan sekedar sikap yang ditunjukkan di depan orang tua. Alhamdulillah, anak saya meski berada di rumah neneknya dan ingin diajak keluar oleh orang disana, ia akan selalu meminta untuk dipakaikan jilbab.

Tumbuhkan kesadaran, ajarkan ia rasa malu

Saya sendiri selalu mendoktrin anak untuk mengenakan jilbab dan menanamkan rasa aib pada dirinya. Ternyata rasa aib itu juga sangat efektif. Saya menjelaskan bahwa anak wanita dihentikan diliat tubuhnya oleh orang lain selain orang yang tinggal di rumah. Ketika ia keluar tanpa jilbab, maka saya akan menyampaikan “ih, Qifaya tidak aib keluar tidak pake jilbab? Itu rambutnya dilihat sama orang lain nak.”
Kapan bahwasanya waktu yang sempurna mengajarkan si kecil menutup auratnya? Jawabannya ialah sedini mungkin, biar ia merasa terbiasa. Namun, untuk menumbuhkan kesadarannya sendiri, diharapkan di anak sudah harus mengerti apa yang kita bicarakan, contohnya si anak sudah bisa merepon perintah kita. 
Nah, demikian tips dari saya ihwal bagaimana cara ampuh mengajarkan anak menutup aurat semenjak dini. Selamat mencoba dan semoga membantu ya..
Baca Juga :  Martabak Legit Group Bandung