Dilema Saat Ramadhan, Masak Sendiri Atau Beli Jadi?

Foto: google
Saya bukan termasuk orang yang menentukan dalam hal makanan. Alhamdulillah perutku juga kebal dengan jajanan pasar. Soalnya ya, biasanya ada perut yang nakal banget, maunya makan kuliner mall terus dan enggan dimasukkan kuliner yang jadi yang dibeli di pasar atau pinggir jalan. Suami aku juga demikian, alhamdulillah suami aku bukan tipe suami yang menuntut istrinya harus masak. Jika tidak memungkinkan, malah beliau yang turun tangan di dapur. 
Bulan ramadhan ini, saat aku melihat postingan kawan-kawan di facebook tentang kuliner yang mereka masak untuk takjil maupun kuliner berat, aku bertanya-tanya dalam hati, “saya mau masak apa ya? rasanya mau masak juga”. Sebenarnya sih, dulu aku suka sekali masak-masak di dapur, terjun pribadi dengan urusan perut keluarga. Dulu juga aku sering mengembangkan resep, dapat dibilang aku bukan newbie dalam hal dapur. Saya sudah dapat bedakan mana jahe, mana lengkuas dan mana kencur.
Setelah berpikir panjang perihal apa yang ingin aku masak saat berbuka, aku jadi kembali bertanya pada diri sendiri, “sanggupkah?” Melihat begitu banyak pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan (saya tidak punya ART), dan lagi aku sedang mempersiapkan ujian hasil dan tutup sebagai syarat menuntaskan S2. Jika ingin makan cendol saja harus buat materi dasarnya dulu, belum di bentuk, dan seterusnya, maka aku akan butuh waktu paling tidak dua jam sampai layak untuk di makan, padahal di rumah hanya ada 1 anak yang tidak begitu doyan makan kue.
Dilema urusan dapur ini terus berlanjut saat aku sadar bahwa suami aku hanya makan sedikit karbohidrat dan banyak sayuran serta buah. Akhirnya, aku memutuskan begini, aku tetap memasak tapi hanya kuliner yang mudah, nasi hanya 1 cup yang dapat aku dan anak aku makan. Untuk sajian tajil pun aku memutuskan untuk membeli kuliner jadi, dengan pertimbangan suami aku gak makan yang manis-manis. Berhubung aku pun tidak menkonsumsi air es, sirup, soda dan sejenisnya, aku mengganti minumannya dengan susu bear merk tidak dingin dan segelas penuh air kangen water.
Untuk sajian sahur pun, aku tidak perlu masak, berhubung suami sahurnya hanya sayuran, daging atau ikan, jadi pas buka aku sengaja buat sayur dan lauk yang lebih banyak dan yang tidak gampang basi. Makara dapat dimakan lagi pas sahur. Saya sendiri, untuk sajian sahurku hanya sekaleng susu bear brand dan kangen water. Saya suka sakit perut soalnya kalo sahur dengan kuliner berat.
Dengan memakai contoh menyerupai ini, rasanya memang aku tidak begitu sibuk di dapur, waktu kosong aku jadi lebih banyak yang dapat dipakai untuk membaca dan ibadah sempurna waktu. Daripada aku harus turun ke dapur menyerupai tahun pertama dan kedua aku menikah, waktu aku habis untuk memasak, malamnya keletihan dan tidak mampu lagi untuk tarwih.
Untuk budget mungkin belum terasa ya alasannya yakni anak aku masih satu. Tapi untuk keluarga besar, ada baiknya memang untuk memasak makanannya sendiri semoga lebih hemat. Jika anak gres satu menyerupai saya, terlebih kalau tidak punya ajun rumah tangga, sebaiknya pikirkan dulu baik-baik, mulai dari apa yang kita makan, jumlahnya dan waktu yang dibutuhkan. Karena kalau salah menghitung, bukannya menghemat malah akan jatuhnya boros.
Baca Juga :  Kuliner Bandung: Pisang Bollen