Pengalaman Pertama Naik Kereta Api Eksekutif, Bawa Balita Super Aktif Hingga Migrain!

Tahun ini, kami tetapkan untuk melaksanakan perjalanan ke Bandung, sesudah hampir setahun kemudian kami melalukan liburan ke Surabaya, Malang dan Jakarta. Alasan kami menentukan Bandung sebab sangat kebetulan suami ada urusan pekerjaan di kota ini. Makara yah, sekali jalan dua tiga pulau terlampaui 😀

Sebenarnya Qifaya sudah pernah sih naik kereta api, waktu itu kami menempuh perjalanan dari Surabaya ke Malang. Tapi sebab ketika itu memakai kereta api kelas ekonomi, jadilah kali ini yaitu pertama kalinya kami memakai kereta api  kelas eksekutif.

Kami berangkat pada tanggal 10 mei 2017 dari Makassar menuju Jakarta, kemudian kemudian menaiki kereta api Argo Parahyangan dari Stasiun Gambir kemudian turun di Stasiun Bandung. Untuk pemesanan tiketnya, kami mempercayakan Traveloka sebagai biro tiket kami. Selain mudah, kami juga sudah dapat menentukan bangku ketika melaksanakan pemesanan.

Karena usia anak aku sudah 3 tahun dan tubuhnya Masya Allah sudah menyerupai anak usia 5 tahun, jadi aku memesankan tiket juga untuknya. Soalnya perjalanan Jakarta-Bandung ditempuh selama 3 jam, maka akan sangat merepotkan bagi kedua belah pihak (yang dipangku maupun yang memangku) selama perjalanan, pun peraturan KAI mengharuskan anak di atas usia 2 tahun mendapat tiketnya sendiri.

Selama diperjalanan, semenjak di Bandara Soekarno Hatta, kepala aku sudah terkena migrain. Malah aku sempat muntah sebab gak yummy tubuh ketika gres saja turun dari uber, di stasiun Gambir.
Stasiun Gambir

Ketika datang di stasiun gambir, aku yang terkena migrain, tetap takjub melihat stasiun ini. Soalnya, mengingat stasiun gubeng di Surabaya dan stasiun Malang, penampakannya jauh dari stasiun Gambir yang dingin, dipenuhi dengan restoran masakan selayaknya mall.

Baca Juga :  Wisata Kampung Karuhun Eco Green Park Sumedang

Qifaya (3 tahun) duduk sambil makan sundaes mcd

Ketika sudah setengah sadar (abis muntah tadinya), aku mencari masakan yang manis-manis, setidaknya dapat menutupi kebutuhan glukosa aku biar melek lagi. Saya menemukan mcd dan pribadi memesan sandaes es krim. Anak aku juga ikutan makan es krim potongan mamynya. Sebelumnya, laptop aku sempat ketinggalan di uber, untung driver ubernya baik banget kembalikan laptop andalan aku 😀

Penampakan Kereta Api Argo Parahyangan

Kereta api Argo Parahyangan ini tampaknya kereta api renta ya, soalnya kursi-kursi yang berjejeran nampak sudah sangat renta dan mulai pudar warnanya. Sensasi ketika gres masuk gerbong yaitu sensasi wangi pesing dari toilet umum di ujung gerbong yang aku lalui. Meski kelihatan tua, kereta api ini cukup nyaman sebab pendingin udaranya bekerja dengan sangat baik. Di setiap bangku juga disediakan bantal kecil, entah akan dipakai di kepala, di belakang, di duduki atau hanya sekedar di peluk sebagai pengganti pasangan 😀

Selain bantal kecil, tiap bangku juga dilengkapi dengan pijakan kaki yang dapat disetel ke atas atau ke bawah, atau di tengah-tengah. Bisa juga dijadikan kawasan duduk untuk suami aku ketika makan sepiring berdua barengan anak aku 😀

Pijakan kaki

Jadi, sebab kepala sakit dan abis muntah, selera makan aku jadi hilang. Ketika kereta yang jualan makanan lewat, aku hanya memesan chitato sambil memandang anak dan suami aku makan sepiring berdua 😀 Maklumlah, anak kecil kayak gini makannya seberapa sih. Mau dibelikan satu masakan utuh juga, gak bakalan dihabiskan. Adanya hanya akan menjadi mubazir, jadi kami sering share masakan sama Qifaya.

Sesekali di perjalanan, aku membuka mata untuk mengintip, sudah hingga dimana kami. Akibat migrain yang melanda, aku hanya dapat duduk terkapar di bangku saya. Qifaya yang baterainya masih full, terus-terusan bermain dan menggaggu daddynya. Alhamdulillah selama perjalanan suami aku dalam kondisi fit sehingga aku dapat rebahan manja dengan kepala migrain.

Suami duduk di pijakan kaki
Baca Juga :  Bijak Dalam Mempersiapkan Kebutuhan Bayi Gres Lahir

Ketika datang di stasiun Bandung, kesan pertama aku yaitu stasiunnya higienis dan cukup kecil bila dibandingkan dengan stasiun gambir di Jakarta. Saat itu yaitu malam hari, kira-kira pukul 19, stasiun Bandung sudah dipenuhi dengan penumpang. Meski tidak secanggih stasiun gambir, menurutku stasiun Bandung cukup nyaman. Sebenarnya ingin sih kasih liat fotonya, tapi apa daya di galeri ternyata gak nemu.

Demikian pengalaman aku naik kereta api kelas eksekutif. Seandainya kepala aku gak sakit, mungkin dapat lebih menarik lagi jepret sana jeprit sini 😀