Persiapkan Ini Bila Ingin Travel Dengan Balita

Foto: dokumentasi pribadi
Besok ialah hari dimana saya dan anak saya berangkat ke rumah orang renta di Makassar, ini sudah kali ke sekian perjalanan anak saya memakai pesawat, hingga lupa ini sudah yang ke berapa kali. Awal saya membawa anak naik pesawat ialah ketika usianya 4 bulan. Karena saya melahirkan di Makassar, jadi saya juga sekalian menunggu 4 bulan hingga anak saya benar-benar siap dibawa pulang dengan pesawat.

Sebenarnya persiapannya tidak beda jauh sih dengan persiapan yang dilakukan oleh orang cukup umur pada umumnya, tapi alasannya ialah adanya kecemasan pada sang ibu, niscaya membawa anak balita di pesawat butuh persiapan lebih 😀 Saya langsung menyiapkan hal-hal khusus untuk anak saya biar beliau tidak rewel selama menunggu di waiting room apalagi di dalam kabin pesawat.

Pakaian

Sama ibarat orang dewasa, balita juga butuh pakaian. Namun jikalau orang cukup umur hanya membutuhkan pakaian 2 lembar, maka balita butuh setidaknya 6 lembar. Semakin kecil usianya, maka sanggup lebih banyak dari itu. Kenapa? soalnya pakaian anak kecil rentan banget kotor, entah itu alasannya ialah makanan, bermain, berkeringat atau malah alasannya ialah popok yang kepenuhan lantas bocor.

Pakaian juga harus diubahsuaikan dengan kawasan tujuan, misal jikalau kita menuju kawasan yang suhunya hambar makan bawakan baju dingin, jikalau suhunya panas, maka bawakan baju yang agak tipis. Kalau saya langsung sih, alasannya ialah anak saya mengenakan jilbab, yang membedakan hanya jaket saja. Kalau tujuannya hambar saya akan bawakan jaket lebih, jikalau panas maka saya hanya bawa 1 atau 2 jaket setidaknya untuk jaga-jaga mungkin akan dibutuhkan.

Selain memasukkan pakaian dalam koper, saya juga sering menyelipkan pakaian ganti di dalam backpack saya. Agar jikalau terjadi “pakaian kotor”, saya sanggup menggantinya dengan cepat tanpa harus membongkar koper lagi.

Popok

Untuk popok sendiri, saya tidak pernah membawa dalam jumlah banyak, paling hanya 3-4 lembar saja sih. Soalnya kan popok barang umum ya dijual, jadi tidak sulit untuk menemukannya. Popok juga saya hanya menyimpannya di dalam backpack, biar lebih simpel untuk dijangkau.

Toileters

Membawa toileters berdasarkan saya sangat penting, terlebih sabun. Saya sering membawa toileters anak ukuran kecil, toileters sendiri hanya berupa tissue kering, tissue basah, sikat gigi dan sabun ukuran kecil. Sabun saya letakkan di dalam backpack beserta tissue. Kenapa? soalnya sanggup gawat jikalau anak poop di kawasan umum dan tidak terdapat sabun. Kaprikornus yah benda ini sangat wajib untuk dibawa.

Susu

Berhubung anak saya meminum susu bermerk curcuma plus, dan susu itu tidak mengecewakan sulit ditemukan, saya sering membawa 2-3 kotak di dalam koper. Soalnya anak saya, usia 3 tahun bahkan beliau masih minum susu dengan dot, dan beliau tidak sanggup tidur tanpa minum dot. Untuk bekal di backpack, saya menyiapkan susu UHT brand apa saja, tapi belakangan saya suka banget dengan UHT punya morigana, bahannya plastik ya ibarat susu indomilk kemasan botol plastik, tapi khusus buat balita ini susunya. Kemasan ibarat itu jadi gak simpel penyok kalo tertindih barang lain. Berbeda dengan kemasan kotak, sangat rentan bocor dan penyok jikalau tertekan.

Camilan

Saya sering menyediakan coklat buat anak saya, soalnya beliau suka banget dengan coklat. Sebenarnya coklat dijual bebas di bandara, namun alasannya ialah harganya begitu mahal, saya memutuskan untuk membeli di super market atau mini market sehari sebelum berangkat, biar gak lupa lagi. Tau lah emmak-emmak, perhitungannya luar biasa ya. hahaha

Gendongan / Stroller

Gendongan atau stroller bergotong-royong ditentukan dari usia anak dan kondisi kawasan tujuan. Jika anak usia di bawah 2 tahun (atau badannya masih kecil), sebaiknya memakai gendongan. Jika di atas 2 tahun (atau tubuhnya sudah berat untuk digendong lama) sebaiknya memakai stroller. Anak saya, memakai gendongan hanya hingga usia 1 setengah tahun saja, soalnya badannya Alhamdulillah cepat besar dan tubuhnya sudah tidak muat lagi di dalam gendongan, jikalau memakai gendongan malah penggalan paha jadi lecet alasannya ialah ketatnya gendongan itu.

Perhatikan juga kawasan tujuan, jikalau tempatnya ramah stroller, maka bawalah stroller yang tidak merepotkan, ada kok stroller khusus travel. Kenapa bawa stroller travel, soalnya ini kita bawa anak ya, jadi jangan mau terlalu direpotkan dengan stroller ukuran gede. Bisa-bisa anak jadi stress kalau orang renta juga stress.

Tiket

Nah, ini yang paling penting bergotong-royong 😀 jangan hingga kita dah punya tiket tapi malah lupa belikan anak tiket. Kejadian ini pernah loh terjadi di pesawat yang saya tumpangi, ada seorang ibu yang tidak membelikan tiket untuk anak balitanya, kesannya beliau gak sanggup naik dong di pesawat, si ibu disuruh membeli tiket gres untuk si anak, yah kena deh mau lolos gratis tiket malah sanggup harga lebih mahal. Padahal kan jikalau dibeli sebelumnya lewat travel online, sanggup lebih murah buk!

Oh iya, tiket pesawat tidak berpatokan pada usia anak ya, anak saya usia belum 2 tahun sudah beli tiket utuh. Kenapa? alasannya ialah tubuhnya sudah melewati dagu orang cukup umur ketika duduk dipangkuan, jadi beliau harus duduk sendiri. Lagipula, jikalau tubuh anak sudah besar meski usia belum hingga 2 tahun, sangat tidak nyaman loh duduk berjam-jam di pesawat sambil pangku anak. Anak tersiksa, ibu juga tersika.

Mainan

Ingat bawakan mainan kesayangan anak, satu aja gak perlu banyak. Anak saya sendiri, saya selalu membiarkannya menentukan satu mainan berukuran kecil yang paling beliau suka, hal ini sanggup membantu menenangkan beliau jikalau rewel loh. Namun terkadang ada juga pesawat yang menunjukkan mainan khusus anak kecil, ibarat waktu itu saya menaiki garuda tujuan UPG-KDI, anak saya dikasih satu boneka kecil. Namun jangan terlalu bermimpi ya, gak semua pesawat garuda ngasih mainan ke anak kecil 😀

Obat-Obatan

Obat-obatan yang saya bawa setiap melaksanakan perjalanan hanya berupa balsem dan minyak telon.

Nah, itu lah tadi daftar apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk travel bersama balita. Namun, semuanya balik lagi ke kondisi masing-masing anak dan keluarga.

Sekian dari saya, semoga perjalanannya kondusif dan menyenangkan yaa…
Baca Juga :  Martabak Bandung Yang Wajib Anda Coba